Mr. Sastra Alphard

Mr. Sastra Alphard
Trustworthy Friend

Mr. Sastra Alphard

Mr. Sastra Alphard
Trustworthy Friend +62-81-2939-12345

Mr. Sastra Alphard

Mr. Sastra Alphard
Trustworthy Friend +62-81-2939-12345

Wednesday, December 16, 2020

Yadnya (Yajna) Berarti Wishnu (Vishnu)

 YAJNA BERARTI KRISHNA /VISHNU


Dalam Bhagavad-gita dengan jelas disebutkan bahwa ada banyak jenis pelaksanaan yajna yang direkomendasikan dalam literatur Veda, tetapi sebenarnya semuanya dimaksudkan untuk memuaskan Tuhan Yang Maha Esa. Yajna berarti Vishnu. Dalam Bab Ketiga Bhagavad-gita dengan jelas disebutkan bahwa seseorang harus bekerja hanya untuk memuaskan Yajna, atau Vishnu. 


yajñārthāt karmaṇo ‘nyatra, loko 'yaḿ karma-bandhanaḥ tad-arthaḿ karma kaunteya, mukta-sańgaḥ samācara (BG 3.9


"Pekerjaan yang dilakukan sebagai korban suci untuk Vishnu harus dilakukan. Kalau tidak, pekerjaan mengakibatkan ikatan di dunia material ini. Karena itu, lakukanlah tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan guna memuaskan Beliau, wahai putera Kuntī. Dengan cara demikian, engkau akan selalu tetap bebas dari ikatan"


Bentuk peradaban manusia yang sempurna, yang dikenal sebagai varnasrama-dharma, secara khusus dimaksudkan untuk memuaskan Vishnu. Oleh karena itu, Krishna bersabda dalam BG 5.29: 


bhoktāraḿ yajña-tapasāḿ, sarva-loka-maheśvaram suhṛdaḿ sarva-bhūtānāḿ, jñātvā māḿ śāntim ṛcchati


"Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku

sebagai Penerima utama segala korban suci (yajna) dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua mahkluk hidup, akan mencapai kedamaian dari penderitaan kesengsaraan material."


Namun, orang yang kurang cerdas, tanpa mengetahui fakta ini, menyembah dewa untuk keuntungan sementara. Oleh karena itu, mereka jatuh pada keberadaan material dan tidak mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Namun, jika seseorang memiliki keinginan material untuk dipenuhi, dia lebih baik berdoa untuk itu kepada Tuhan Yang Maha Esa (meskipun itu bukan pengabdian murni), dan dengan demikian dia akan mencapai hasil yang diinginkan.




Sunday, December 13, 2020

Bali, nasibmu kini.

 Orang BALI Riwayatmu Kini


Bali dengan luas 5.632 km2 hanya menjadi sebuah pulau kecil diantara 17.778 pulau lainnya di Indonesia, yang secara geografis tidak begitu berarti. Meskipun digolongkan sebagai salah satu pulau terpadat dengan 4 juta jiwa, namun populasi orang Bali yang tinggal di Bali menurut konsensus penduduk hanya tersisa sekitar 60%-nya saja. Yang lebih ironi, dari total orang Bali yang tinggal di Bali saat ini, sudah 10% diantaranya meningalkan agama leluhurnya, HINDU.


Bali pada dasarnya adalah pulau miskin yang tidak memiliki kekayaan alam, kecuali hasil pertanian dan perikanan yang juga tidak terlalu besar.Dari segi politik, Bali juga tidak memiliki peran berarti di kancah nasional karena wakil rakyat Bali yang duduk di DPR/MPR hanya sekitar 5 orang dari total 1000 orang anggota. Dari segi pertahanan dan keamanan juga tidak mendukung. 


Sejak runtuhnya Majapahit, Bali diserang dan dihimpit dari arah Banyuwangi dan dari Lombok oleh kerajaan-kerajaan Islam waktu itu. Mungkin karena faktor datangnya Portugal dan Belanda, gempuran kerajaan Islam pada waktu itu melemah dan Belanda membuat undang-undang khusus untuk melesarikan budaya Bali yang memang sangat endemik, sehingga kaum misionaris tidak diijinkan mengkonversi agama orang-orang Bali.


Faktor pendukung yang menguatkan posisi Bali hanyalah kebudayaan dan alamnya yang sangat mempesona serta masyarakatnya yang sangat ramah dan terkenal jujur sehingga tidak salah kalau “dulu” pulau Bali dijuluki 

“The paradise island”,

“The island with thousand temple”, “God island”, “The morning of the world”

Dan lain sebagainya. Namun, masihkan Bali layak mendapat julukan seperti itu?


Bangunan-bangunan Pura nan megah kini disulap menjadi tempat pariwisata yang mengesampingkan “taksu”/roh dari Pura itu sendiri.Kehikmatan umat dalam bersembahyang harus dikesampingkan demi kepentingan para turis asing. 

Upacara keagamaan semakin marak dan semakin marak, tetapi kemana maknanya?


Ceramah dan propaganda agama semakin marak menyerang, tetapi sudahkah hal tersebut menghasilkan output yang positif bagi moralitas dan keajegan Bali jati mula?


Kafe remang-remang menjamur bak musim hujan, kriminalitas, narkoba, miras, kenakalan remaja, dan seks bebas sudah merambah ke desa-desa. 

Bahkan istilah ‘ngecharge HP ke kafe sudah menjadi istilah yang tidak asing lagi bagi sebagian pemuda Bali, yang berarti ‘mencari wanita penghibur di kafe-kafe'. 

Orang Bali perlahan tergerus dalam efek negatif pariwisata, mengalami kegamangan, kebingungan dan kehilangan pondasi dasar dalam menghadapi perubahan yang demikian cepatnya. Akankah “legenda manusia Bali” akan menjadi sejarah? Mengapa bisa menjadi seperti saat ini?


Dimana ada gula, disana pasti semut akan berkerumun. Demikian juga Bali, legenda sebagai pulau surga mampu menggaet jutaan pariwisata asing dan domestik setiap tahunnya, memancing gelombang pendatang yang memasuki pulau Bali, hingga sudah mencapai 40% dari seluruh penduduk. Parahnya, orang Bali ternyata tidak mampu bersaing dengan para pendatang itu. 


Meskipun SDM Bali berada di atas rata-rata, namun sering terbentur oleh adat dan lingkungan yang tidak memungkinkannya berkembang.

Orang Bali layaknya pembantu di rumah mereka sendiri. Bangga dijadikan tontonan yang tidak ubahnya seperti topeng monyet,dimana sebenarnya penikmat utama dari duit yang masuk ke Bali adalah investor yang inginnya “ajeng Bali“ atau “adep Bali“ semata.


Sikap feodal yang membawa orang Bali menjadi MANJA dan tidak mau BEKERJA KERAS juga merupakan hal utama dalam memukul mundur Bali itu sendiri. Semua sektor informal yang dipandang “rendah”,merupakan sektor yang paling mampu mengeruk kekayaan Bali dikuasai oleh pendatang. Sehingga tidaklah salah kalau orang mengejek orang Bali dengan mengatakan; “Orang Bali menjual tanah untuk membeli bakso dan pendatang menjual bakso untuk membeli tanah di Bali”.

 Ironi memang, tapi begitulah kenyataannya.


Sikap senang melihat saudara susah dan susah melihat saudara senang juga merupakan penyakit kronis yang sudah menghinggapi orang Bali. Tidak jarang sikap ini dilampiaskan melalui aji ugig, pengiwa, atau ilmu hitam lainnya.

 Jika ada seorang warga banjar yang nampak sukses dan karena kesibukannya tidak mampu secara rutin mengikuti kegiatan banjar, maka dengan mudahnya orang tersebut dipersalahkan, dipergunjingkan, bahkan tidak jarang “kutang banjar”.


Namun anehnya di balik iri dan dengkinya terhadap saudara sendiri, dia menerima pendatang dengan sangat welcome. Membangun tempat suci agama lain difasilitasi dengan baik karena alasan toleransi. 

Apakah toleransi hanya berlaku bagi pendatang dan tidak berlaku bagi warga lokal?


Institusi lokal yang seharusnya menaungi dan melindungi Bali juga tidak mampu berperan, bahkan kesannya cenderung menekan dan menghancurkan. Awig-awig desa adat sering kali menjadi self-destruction. Banyak masyarakat Bali yang harus keluar dari adat dan meninggalkan Hindu karena konflik dengan adat dan dengan upacara-upacara adatnya. 

Parisada yang seharusnya menjadi pengayom dan pembimbing umat sudah mandul. Berbagai macam kasus yang seharusnya ditindak secara proaktif tidak juga kunjung dilakukan. Kasus penghancuran Pura di Sanur oleh investor, pembuatan “pura tipuan” oleh para misionaris, penistaan simbol-simbol Hindu dan permasalahan sosial lainnya tidak mampu dipecahkan oleh Parisada. Tidakkah yang duduk di dalam Parisada adalah orang-orang intelek yang mampu menyetir Hindu dan Bali pada khususnya ke arah yang benar?


Berbagai program bertajuk “Ajeg Bali” sudah banyak dikumandangkan. Tetapi dalam kenyataannya, hal itu selayaknya sebuah wacana yang tidak lebih dari pada sebuah bahasa para dewa yang terkesan tidak aplikatif. Bahkan, tidak jarang moto Ajeg Bali berujung pada ajang bisnis semata.


Suatu kondisi seperti ini menghantarkan orang Bali kepada keinginan untuk berubah. Namun, perubahan kearah mana yang akan dituju? Setiap kondisi kesusahan dan penyakit selalu dikaitkan dengan hal-hal yang diluar nalar. 

Pergi ke orang pintar untuk “meluasan” dan melakukan upacara besar yang tidak diiringi oleh keiklasan dan sikap untuk memperbaiki tingkah pola diri sendiri pada akhirnya hanya membuat orang Bali tambah miskin,miskin harta, miskin rasa, dan miskin filsafat.


Beramai-ramai mencari trah dan kawitan dengan harapan masuk kedalam golongan Tri Wangsa juga merupakan tren yang sedang hangat saat ini. 

Bangga akan leluhur dan dapat menjadikannya sebagai modal untuk menyongsong masa depan yang lebih baik adalah hal positif, tapi bagaimana jika kebanggaan tersebut membangkitkan egoisme sempit dan menghancurkan diri sendiri?


Dengan kehidupan yang di jejali upacara untuk menyupat Bhuana Agung yang nilainya tidak dapat dikatakan murah, tidak dibarengi dengan filsafat demi mengendalikan Bhuana Alit yang membuat manusia Bali semakin miskin moral. 

Tidaklah mengherankan jika orang-orang Bali yang sedikit lebih intelek berusaha lari mencari pencerahan. Yang beruntung mungkin menemukan warna yang berbeda dari Hindu yang ada di Bali, namun yang kurang beruntung akhirnya ’hijrah’ ke agama lain.


Bagaimana mengembalikan Jiwa Bali seperti sedia kala? Jati diri atau sifat khas orang Bali adalah sifat dasar, norma, kepercayaan, dan tuntunan hidup mendasar yang seharusnya melekat pada setiap orang Bali. Jangan lupa bahwasanya budaya Bali dibangun dengan spirit Hindu, jika spirit ini hilang, pulau Bali dan orang-orang Bali tidak ubahnya seperti perangkat yang tidak memiliki software yang tepat.


Pada abad ke-10, dibawah pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh, aliran-aliran yang berkembang di nusantara bersatu menjadi Agama Saiwa Sidhanta atau yang populer disebut “Pengider–ider” (Dewata Nawa Sanga), semua dewa dipuja menjadi satu kesatuan dalam Upacara, puja dan tata letak, yang dikenal sebagai Tiga Kerangka Agama Hindu yaitu, Tattwa, Susila dan Acara/Upakara, yang terwujud dalam ruang lingkup Panca Yadnya. 


Ajaran inilah yang berkembang menjadi Agama Hindu Bali dengan segala peraturan pelaksanaannya yang melahirkan Budaya Bali, yang juga membedakannya dengan corak dan wajah Hindu di India dan wilayah lainnya. Yang dimaksud Hindu Bali disini tentu adalah Hindu yang dilaksanakan dalam koridor Kebudayaan Bali, yang seluruh aktivitasnya berada di lingkup Desa Adat/Pekraman.Dengan demikian bagaimana cara mengembalikan kebudayaan Bali ke identitasnya yang sejati? 


Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat harus kembali pada kitab suci yang merupakan dasar yang paling mendasar dari seluruh kerangka dan pondasi budaya Bali, kembali menerapkan ajaran sastra dan tegas memberhangus tindakan dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan prinsip sastra. 


Pelaksanaan upacara dan seluruh ritual adat harus dikembalikan kedalam koridor ajaran sastra/tattwa.

 Para Brahmana tidak boleh melakukan upacara besar demi bisnis “banten” semata. Awig-awig adat juga harus selalu bersandar pada prinsip-prinsip tattwa/sastra, bukan ditunggangi oleh kepentingan sesaat yang sifatnya pribadi. 


Tempat-tempat suci dan juga pura keluarga tidak hanya dijadikan sebagai media upacara, tetapi dikembalikan ke fungsinya yang lebih luas, yaitu sebagai tempat bermasyarakat dan belajar filsafat sehingga antara upacara dan filsafat dapat berjalan dengan harmoni, sehingga dapat diimplementasikan secara menyeluruh kedalam semua sisi adat dan budaya di Bali.


Bali yang tanpa Hindu, Bali yang tanpa filsafat, tempat suci, masyarakat desa pakraman yang hilang keramahtamahannya, adalah Bali yang telah lenyap. 

Adalah kewajiban kita semua sebagai masyarakat Bali untuk mengembalikan Bali menjadi lebih baik.

Bukan hanya bisa bilang Bali akan menjadi besar,bali akan menjadi peradaban dunia tapi tanpa aksi nyata 

🙏🙏🌹🌹🙏🙏


Sumber: grup wa

foto hanya ilustrasi 

#repost2018

#cerminan

#luungnejemak

#jeleknekutang




Sing Main Main ! Covid-19 pandemic seasons. Jauhi Kerumunan

 *Breaking News*


Indonesia *berduk

Telah berpulang :


1. dr.Felicia Tanzil, SpKFR (Majalengk

2.Dr.Ananto Prasetya Had

(Ka Humas RSCM)

2.   Dr. Fuad Mahfuzd, Sp. THT

3.   Kol Ckm Dr. Sjahruddin, Sp. THT-KL 

4.   Dr.Oki Alfian bin H.Alamsyah

5.   Dr.Dharma Widya ( Direktur RSUD Aceh Timur )

6. Dr. Gatot Soeryo Koesumo, PFK, MM ( Direktur RS Aulia Jagakarsa) , Jakart

7. dr. Wahyuning Saraswati ( Bogor

8. dr Redy ( WaDir RSUD Banjar

9. Prof.dr Dadang Hawari SpKJ( K

10. Kol.CKM DR Is Priyadi (16.38) di RSPAD. Alumnus FK UNAIR 84


Dalam waktu 24 jam, Indonesia kehilangan 10 Dokter karena COVID-1

Sungguh kehilangan besar bagi bangsa Indonesia


Hati2!!

Kementerian Kesehatan memperkirakan akan terjadi ; *ledakan yg sangat luar biasa*


*AGAR DIPERHATIKA

PAKAI MASKER, JAGA JARAK, JAUHI KERUMUNAN, SERING CUCI TANGAN, MAKAN MINUM YANG PANAS2, LEBIH BAIK DIRUMAH


Semoga kita semua tetap sehat walafiat. Ami


 Herry Wanadjaja: *Untuk diketahui saj

*Pemilik Al Azhar Klp Gading meninggal 10 hari lalu, 2 hari kemudian Direkturnya ikut meninggal, 1 hari berikutnya 2 anak satu mantu, 2 cucu di rawat di RS krn covid, tadi malam jam 22.30 istrinya meninggal krn covid.

*WARNING

*untuk diri sy sendiri maupun teman2 betapa bahayanya covid, satu keluarga bisa habis.

*Mari kita waspada, tetap ikuti protokol kesehatan dan berdoa utk keselamatan kita semua.

[1/12 08:02] Herry Wanadjaja: 🇮🇩🇮🇩🚩

*Hari ini semua RS dikota Bandung ruang rawat Covid penuh , pasien tertahan di UGD tdk tahu mau dirujuk kemana


Hari ini teman saya dokter di Majalaya meninggal karena covid. Menurut informasi bbrp dokter saat ini dirawat dlm keadaan kritis.


*Kota Bdg sdh merah total, hindari bepergian atau makan bersama karena berisiko tertular. Gejalanya sdh sangat bervariasi shng sukar dikenal


[11/27, 12:38 PM] artgus faizal: # 🔴😷🆘  *Hati2 !!! Bandung zone merah :  Nasihat di Rumah Sakit isolasi ( dapat diterapkan di rumah ) -obat yang diambil di Rumah Sakit 🏥 Isolasi


  1. Vitamin ©️ C-10

  2. Vitamin  E ( E 

  3. Dari pukul 10.00 🕙hingga 11.00 pagi, 🕚duduklah di bawah sinar matahari 🌞 selama 15-20 1️⃣5️⃣ - 2️⃣0️⃣ menit

  4. Makan telur 🍳🥚 sekali sehar

  5. Istirahat / tidur minimal 7-8 jam 🛌

  6. Setiap hari kita minum 1,5 liter air 

  7. Semua makanan harus dimakan panas ( tidak dingin ) 🥘🔥

 *" Ini semua yang kami lakukan di Rumah Sakit untuk memperkuat sistem kekebalan "*.


  *Perhatikan bahwa pH COVID-19 adalah dari 5,5 hingga 8,

 

*Oleh karena itu, yang harus kita lakukan untuk MEMBERANTAS VIRUS tersebut adalah MENGKONSUMSI MAKANAN yang LEBIH BASA dan LEBIH ASAM daripada virus corona😷 baru*


  *Misalnya*

  Pisan

  Kapur-9,9 p

  Kuning Lemon-8,2 p

  Buah susu-15,6 p

  * Bawang putih-13,2 p

  * Mangga-8,7 p

  * Orange Orange-8,5 p

  * Huang Li-12,7 p

  * Selada air-22,7 p

  * Orange-9.2 p


  *Bagaimana Anda tahu bahwa Anda telah terinfeksi virus corona baru 

 

1. Tenggorokan gata

2. Tenggorokan kerin

3. Batuk kerin

4. Suhu tubuh tingg

5. Sesak napa

 6. Kehilangan penciuman.  

 

*Sebelum virus menginfeksi paru-paru, air lemon hangat bisa menghilangkan virus*


  #🔴 *Guys; Jangan simpan informasi ini sendiri. Tolong bagikan kepada keluarga dan teman" Anda*.  🥰




 #. .siggl ?*HHHHHHHHHg :. 5*

 🥛i.)00*#i*  .*****a*n..N*.! .9..)))a ....ia) a*i ini sendiri. Tolong bagikan kepada keluarga dan teman" Anda*. 🥰 #

Tuesday, November 17, 2020

Segar Dewata Bali teruji Bakar Lemak !

 

Masa Pandemi Corona, berat badan juga harus dikendalikan. Tidak hanya berat badan yang turun, kesehatan pun meningkat dengan menjaga kebersihan racun yang diserap tubuh dalam proses kimia selama menjalani aktifitas bertahan hidup.

Teman-teman, silahkan dipesan #SegarDewata jamu teh organik / herbal organic detox drink.

Mr. Sastra +62-81-2939-12345

Jamu Segar Dewata teruji baik secara alamiah maupun klinis dalam mengembalikan metabolisme tubuh agar tetap semangat menyambut hari-hari.

Jantung sehat, Hati dibersihkan, Cara Kerja Alami Usus dalam perut dikembalikan seperti Saat Balita, Panjang umur, Pikiran tenang, Ide pun muncul dengan cemerlang mengais rejeki.

#SalamSehat 







Monday, November 9, 2020

Upgrade Your Speaking Skills

 

Your ability to read people on sight will affect how you deal with them. Thus, the more accurately you read them, the more effective your communication will be. So, if you want to read people, you need to pay attention to everything. From someone’s eye contact to their smile, from their head movements to their posture, down to their shoes.

More advice ?
https://wa.me/6281293912345

Messenger chat
https://m.me/IGP.Sastrawan

Available for a Tea Time or Coffee Time Consultancy🙏❤️

#baliboudoir #sastrawan_bali #epic #ilmukomunikasi #komunikasi #dealing #pitching #lobby #communication #verbal #howtotalk #letstalk


While reading people or their body language isn’t easy, if you can do it, it’s a great skill to have. Of course, everyone is different, so your interpretation of them may or may not always be accurate. But, if you want to know more about how to read anyone instantly, definitely talk to Sastra. 




Sunday, November 8, 2020

Jauhi Provokasi Berkedok Keyakinan Kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyanyang.

 Bhagawad Gita IX.25


यान्ति देवव्रता देवान्पितृन्यान्ति पितृव्रताः ।


भूतानि यान्ति भूतेज्या यान्ति मद्याजिनोऽपि माम् ॥


yānti devavratā devānpitṛnyānti pitṛvratāḥ,


bhūtāni yānti bhūtejyā yānti madyājino’pi mām.


BG 9.25


They who worship the gods go to the gods, to the (divinised) Ancestors go the Ancestor-worshippers, to elemental spirits go those who sacrifice to elemental spirits; but My worshippers come to Me (Aurobindo, 1995:52).


Bhagavadgita 9.25 dalam bahasa Jawa Kuno (Bahasa Kawi)


Sangksepanika ling mami, ikang amuja dewata, mulih mareng dewata, mulih mareng pitra tikang amuja ring pitra, mulih ring bhuta loka sang amuja ring Bhuta, kunang ikang amuje ryaku teke ryaku niyatanika.


 


Bhagavadgita IX.25 dalam bahasa Bali


Cutetipun rawos beline, punika sang ngastawa dewa, mantuk punika ring dewata, mantuk ngungsi ka pitra loka punika sang ngastawa ring pitra, mantuk kabhutaloka sang ngastawa ring bhuta, nanging punika sang ngastawa ring beli rawuh ring beli kasinahannya punika (Menaka, 1990:181).


Arti Sloka Bhagavad Gita 9.25


Para pemuja dewa akan pergi kepada para dewa, para pemuja leluhur akan menghadap leluhur, para pemuja roh alam akan bertemu dengan roh alam, tapi mereka yang memuja-KU akan datang kepada-KU (Radhakrishnan, 1971:248).


Arti Sloka BG IX.25 per Kata berdasarkan Kamus Sansekerta:yanti, Artinya: pergi;deva vrata, Artinya: penyembah dewa;devan, Artinya: kepada para dewa;pitrn, Artinya: kepada para leluhur;pitr vratah, Artinya: para penyembah leluhur;bhutani, Artinya: kepada para hantu dan roh-roh halus (gaib);bhutejya, Artinya: para penyembah roh-roh halus dan hantu-hantu (gaib);mad, Artinya: milik-Ku;yajino, Artinya: para penyembah;pi, Artinya: tetapi;mam, Artinya: kepada-Ku.


 


Penjelasan Bhagawad Gita 9.25


Dijelaskan dan ditegaskan sekali lagi oleh Sang Kresna secara bebas dan amat demokratis tujuan pemujaan para pemuja yang bebas memuja. Silahkan dengan demikian menentukan pilihan, karena Yang Maha Esa sudah jelas sabda-sabdaNya.


Kalau seseorang ingin pergi ke bulan, matahari, atau planet lain, ia dapat mencapai tujuan yang diinginkan dengan mengikuti prinsip-prinsip Veda tertentu yang dianjurkan untuk mencapai tujuan tertentu itu. Dalam sloka ini dijelaskan oleh Sang Kresna bahwasanya ada tiga macam kekeliruan yang umumnya dilakuakn oleh seorang yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Brahman (ini adalah karakteristik diseluruh dunia), yaitu


pemujaan terhadap dewa-dewa saja,pemujaan terhadap leluhur (nenek-moyang) yang telah meninggal dunia saja,tiga pemujaan kepada jiwa atau roh suci ataupun sesuatu yang ada dalam alam ini saja.


Memang sebenarnya ketiga pemujaan tersebut diatas tidaklah salah, sebab setiap pemujaan (apapun bentuk dan tujuannya) akan mendatangkan pahala. Pemujaan berkualitas rendah akan menghantarkan pahala kualitas rendah pula. disamping itu, pemujaan berkualitas tinggi akan menghantarkan kita pada kualitas yang tinggi. Semua pemujaan yang sungguh-sungguh merupakan upaya mencari Tuhan (Brahman), karena semua ini adalah Brahman, semua ini adalah Purusa.


* Mereka yang memuja Dewa (ketika kita memuja Dewa), maka konsentrasi pikiran akan tertuju dan datang kepada para dewata, serta akan mendapat anugrah perlindungan dari para Dewa. 


* Mereka yang memuja Leluhur, maka konsentrasi pikiran akan tertuju dan datang kepada para leluhur, serta mendapat anugrah dan dikasihi oleh para leluhur. 


* Mereka yang memuja roh alam, maka kosentrasi pikiran akan tertuju dan datang kepada para roh alam, serta akan mendapat pahala keselamatan, kemakmuran dan kesuburan dari roh alam. 


* Mereka yang memuja Brahman / Ida Sanghyang Widhi Wasa, maka konsentrasi pikiran akan tertuju dan datang kepada Brahman, lalu akan mendapat anugrah dari Brahman.


Artinya bahwa pemujaan kepada Leluhur, Roh Alam, Bhatara, dan Dewa semuanya “BERPAHALA” dan mendapat “ANUGRAH”. Selanjutnya memuja Ida Sanghyang Widhi sebagai tujuan akhir yang utama yakni *mokshartam jagadhita ya ca iti dharma*. 


Namun, ada kelompok-kelompok yang berupaya mempropaganda, dengan mengatakan pemujaan ini salah dan itu yang benar, dipandang keliru sebab tidak mencapai tujuannya yang sesungguhnya dan yang tertinggi. Dengan perkataan lain, pemujaan yang terbatas (kepada dewa-dewa atau leluhur dan sesuatu gaib saja) menghasilkan anugerah terbatas pula. Mereka belum paham bahwa semua adalah wujud dari Tuhan. Karenanya, Sang Kresna memberikan kalimat sederhana sebagai nasehat kepada kita semua: Pujalah Brahman!


Aplikasinya, Umat Gamabali melaksanakan sloka ini dengan jalan kramaning sembah


I Sembah tanpa sarana :


Om àtmà tattwàtmà sùddha màm swàha


Artinya: Oh Hyang Widhi, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah diri hamba...


Kramaning Sembah II dengan sekar putih :

Om Adityasyà param jyoti

rakta tejo namo’stute

sweta pankaja madhyastha

bhàskaràya namo’stute


Artinya:

Oh Hyang Widhi, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja-Mu. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja-Mu yang menciptakan sinar matahari berkilauan.


Kramaning Sembah III dengan kewangen atau sekar kangkad :

Om nama dewa adhisthanàya

sarwa wyapi wai siwàya

padmàsana eka pratisthàya

ardhanareswaryai namo namah


Artinya: Oh Hyang Widhi, yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.


Kramaning Sembah IV dengan kewangen atau sekar kangkad :


Om anugraha manoharam

dewa dattà nugrahaka

arcanam sarwà pùjanam

namah sarwà nugrahaka

Dewa-dewi mahàsiddhi

yajñanya nirmalàtmaka

laksmi siddhisca dirghàyuh

nirwighna sukha wrddisca


Artinya: Oh Hyang Widhi, pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan dari segala pujaan, hamba memuja-Mu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian dari para Dewa dan Dewi berwujud yadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.


Kramaning Sembah V tanpa sarana :


Om Dewa suksma paramà cintyàya nama swàha. Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om


Artinya: Oh Hyang Widhi, hamba memuja-Mu yang tidak terpikirkan. Semoga damai, damai, damai selalu...


Puja untuk Pura Paibon, Pura Kawitan dapat dilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewangen/sekar kangkad :


Om Brahmà Wisnu Iswara dewam

Tripurusa suddhàtmakam

Tridewa trimurti lokam

sarwa wighna winasanam


Artinya:

Oh Hyang Widhi, dalam wujud-Mu sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Dewa Tripurusa Maha Suci, Tridewa adalah Trimurti, semogalah hamba terbebas dari segala bencana.


Puja untuk Pura Kahyangan Tiga Pura Desa dapat dilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewangen/sekar kangkad :


Om Isanah sarwa widyànàm

Iswarah sarwa bhùtànàm,

Brahmano' dhipatir brahmà

Sivostu sadàsiwa


Artinya :

Oh Hyang Widhi, Hyang Tunggal, Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk hidup. Brahma Maha Tinggi, selaku Siwa dan Sadasiwa.


Puja untuk Pura Kahyangan Tiga Pura Puseh dapat dilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewangen/sekar kangkad :


Om, Girimurti mahàwiryyam,

Mahàdewa pratistha linggam,

sarwadewa pranamyanam

Sarwa jagat pratisthanam


Artinya: Oh Hyang Widhi, disebut Girimurti Yang Maha Agung, dengan lingga yang jadi stana Mahadewa, semua dewa tunduk pada-Mu.


Puja untuk Dewi Saraswati dapat dilakukan pada Kramaning Sembah III dengan kewangen/sekar kangkad, silakan baca comment pertama.

*Catatan : Puja dapat dipilih satu sloka atau digabung dari beberapa sloka, kecuali sloka yang terakhir untuk penutup.


Om Saraswati namostubhyam

Warade kama rupini

Sidhir astu karaksami

Sidhir bhawantu sadham


Om Pranamya sarwa dewanca

Paramãtma nama wanca

Rupa sidhi karoksabet

Saraswati nama myaham


Om padma patram wimalaksmi

Padma kçara nandini

Nityam padma laya dewi

Tubhyam namah Saraswati


Om Brahma putri maha dewi

Brahmanye Brahma nandini

Saraswati sajňna yani

Praya naya Saraswati


Om kawyam wyakaranam tarkham

Weda çastram puranakam

Kalpa sidhini tantrani

Twam prasadat karoksabet


Om sulabha twam swara mantra

Irabheyam phalakam param

Sarwa kleça winaçanam

Santhi twam sanggatot manam


Om atheni rasa hasranam

Sarwa roga winaçanam

Twam mama sarwa sidhyantu

Sarwa karya prasidhyaye


Om Sang Saraswati sweta warna ya namah swaha

Om Bang Saraswati rakta warna ya namah swaha

Om Tang Saraswati pita warna ya namah swaha

Om Ang Saraswati kresna warna ya namah swaha

Om Ing Saraswati wiçwa warna ya namah swaha


Om sukham bhawantu, purnam bhawantu, çryam bhawantu

Om Sidhirastu tat astu astu swaha

Om Saraswati dipata ya namah


 Artinya :


Oh Hyang Widhi dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati, pujaan kami

Yang berwajah cantik, indah benderang

Berkuasa mempengaruhi kami

Selalu berkuasa pada serba dunia


Oh Sang Hyang Saraswati, yang dihormati oleh semua dewa dewi

Karena engkau adalah brahman yang dimuliakan

Merupakan wujud yang kuasa

Kami muliakan Engkau dengan gelar Saraswati


Oh Sang Hyang Saraswati, Engkau suci bersih bagai daun bunga teratai

Berambut indah bagai sari bunga teratai

Selalu ada di sekitar padma

Patut dihormati sebagai sumber ilmu pengetahuan


Oh Putri Sang Hyang Brahma, Engkai dewi yang maha agung

Selalu ada bersama Brahma

Diberi gelar Saraswati yang indah

Mengatur semua mahluk


Oh Sang hyang Saraswati, Engkau mengubah segala ilmu tattwa

Weda dan Sastra, Purana-purana, serta ilmu Tantra

Yang menjiwai dan berkuasa sepanjang jaman

Engkaulah penciptanya


Oh Sang Hyang Saraswati, atas anugrahMu semoga doa kami menjadi bertuah,

Mendatangkan segala kebaikan untuk seluruh dunia

Semoga bathin yang cemar dan kotor menjadi musnah

Semoga damai dan bersatu bhatin kami kepadaMu


Oh Sang Hyang Saraswati, berkenan kiranya Engkau menganugrahi perasaan bathin yang indah, semoga yang menimbulkan penyakit menjadi musnah, berkenan kiranya engkau menganugrahi kami serba sejahtera, sehingga tugas karya kami terselesaikan


Oh Sang Hyang Saraswati, demikian puja kami kepadaMu, dalam prabhawaMu sebagai Sang Hyang Sadyajata, Sang Hyang Bhamadewa, Sang Hyang Tat purusha, Sang Hyang Aghora, serta dalam prabhawaMu sebagai Sang Hyang Içyana dengan pancaran warna putih, merah, kuning, hitam, serta serba warna

Oh Hyang Widhi dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati, semoga Engkau senantiasa memberikan kekuatan, keselamatan, semoga semuanya tiada halangan. Oh Sang Hyang Saraswati hamba memuja-MU.


#SEMOGATERCERAHKAN


OM TATHASTU SWAHA.




Sunday, June 7, 2020

Ternyata Berbeda, ALPHARD lebih panjang daripada VELLFIRE

  1. Alphard lebih panjang dari Vellfire

    Yang banyak tidak diketahui orang, meski menggunakan sasis yang sama, ternyata dimensi keduanya sedikit berbeda. Alphard mencatat panjang 4.945 mm, sedangkan Vellfire memiliki panjang 4.935 mm. Selebihnya sama, lebar keduanya mencapai 1.850 mm, tinggi 1.895 mm, dan wheelbase 3.000 mm. Dimensi tersebut diciptakan guna memastikan penghuni kabin merasa nyaman sepanjang perjalanan.

    Bagian kabin secara struktur tidak ada perbedaan pada kabin Vellfire dan Alphard. Perbedaan bisa dilihat dari aksen ornamen panel kayu. Vellfire menggunakan ornamen interior metal wood dengan dominasi interior dan jok warna hitam.

    Sementara Alphard memakai ornamen interior metal brown wood pada tipe G dan X, serta jok berkelir beige cerah. Pada Alphard 3.5 Q sebagai flagship dilengkapi brown olive ash brull woodgrain dan kelir jok hitam.


  1. Mesin

    Untuk urusan tenaga, Vellfire memiliki 1 opsi mesin berkode 2AR-FE dengan volume 2.494 cc 4 silinder Dual VVT-i yang digunakan pada tipe 2.5 G. Tenaga yang dihasilkan mencapai 180 PS pada 6.000 rpm dan torsi 23,9 kgm pada 4.100 rpm. Tenaga disalurkan ke roda depan melalui transmisi CVT. Mesin serupa juga dipakai oleh Alphard tipe 2.5 X dan 2.5 G.
    Sementara Alphard di Indonesia dilengkapi 2 opsi mesin lainnya. Yang pertama adalah dapur pacu HEV berkode 2AR-FXE berkapasitas 2.494 cc 4 silinder Dual VVT-i. Unit ini memiliki dua pasang motor listrik di roda depan dan belakang berlabel Electric – 4WD (E-Four).

    Mesin lain dipakai di model termewah 3.5 Q yakni unit berkode 2GR-FKS mengandalkan mesin 3.456 cc V6 Dual VVT-i yang sanggup menghasilkan tenaga hingga 300 PS pada 6.200 rpm dam torsi 36,8 kgm pada 4.700 rpm. Tenaga disalurkan sepenuhnya ke roda depan via transmisi otomatis 8-speed.



@Sastrawan_Bali
Pemesanan, Sentuh Foto Sastra