Mr. Sastra Alphard

Mr. Sastra Alphard
Trustworthy Friend

Mr. Sastra Alphard

Mr. Sastra Alphard
Trustworthy Friend +62-81-2939-12345

Mr. Sastra Alphard

Mr. Sastra Alphard
Trustworthy Friend +62-81-2939-12345

Saturday, December 19, 2020

SASTRA Bali Luxury Spa Cakra Slimming Massage Therapist

 

Melalui ruang ini, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menyelam kedalam #indahnya dan luasnya #pikiran manusia.

Dengan memahami #psikologi manusia, saya berharap agar kita semua juga bisa lebih memahami diri kita sendiri secara lebih #komprehensif.

Dengan memahami psikologi manusia, saya berharap agar kita juga lebih mampu untuk lebih baik lagi dalam memahami orang lain.

Saat inisiasi kebahagiaan dalam psikologis setiap makhluk hidup dilakukan, maka diperoleh perasaan yang damai disetiap Desa (Tempat), Kala (Waktu) dan Patra (Ruang).

Kebahagiaan dalam Kedamaian tersebut secara otomatis alamiah akan memberikan #Kesejahteraan dan #Kekayaan yang #Abadi secara #Syncron dan Simultan (berkelanjutan dan bertumbuh kembang) dibawa oleh #Jiwa (#RohSuci) sampai pada tingkatan Alam Semesta Tertinggi.

Tidak ada yang mustahil kecuali kehendak pikiran kita yang mengatakan demikian.

Om Shanti
Gede Sastra

Messenger https://m.me/IGP.Sastrawan

WhatsApp
https://wa.me/6281293912345

Matur suksma ❤️🙏☕




Thursday, December 17, 2020

Layanan PCR dan Rapid Test Antigen Angkasa Pura I Indonesia

 Sekilas Info. menyampaikan update dari Angkasa Pura I terkait penyediaan layanan PCR test dan rapid test antigen di beberapa bandara. Informasi selengkapnya terdapat pada siaran pers di bawah ini. Semoga berkenan dan bermanfaat. Terima kasih 🙏🏻😊


*SIARAN PERS*

*PT Angkasa Pura I (Persero)*

*Nomor 116/SP.H/XII/2020*


*Dukung Perjalanan Udara Sehat, Angkasa Pura I Sediakan Layanan _PCR Test_ dan _Rapid Test Antigen_ di Beberapa Bandara*


_Layanan rapid test antigen di 7 bandara tersedia mulai Jumat 18 Desember 2020_


Jakarta, 17 Desember 2020 - PT Angkasa Pura I (Persero) menyediakan layanan _PCR test_ dan _rapid test_ antigen di beberapa bandaranya untuk mendukung penerbangan sehat pada masa liburan Natal dan Tahun Baru 2021. 


"Angkasa Pura I berupaya untuk mendukung penerapan penerbangan sehat dan protokol kesehatan yang ketat pada masa libur akhir tahun dengan menyediakan layanan _PCR test_ dan _rapid test_ antigen di beberapa bandaranya di mana _rapid test_ antigen menjadi syarat untuk melakukan penerjalanan udara ke berbagai tempat. Layanan ini diharapkan dapat mempermudah dan mendukung calon penumpang pesawat udara untuk menerapkan penerbangan yang sehat dan aman," ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi. 


Terdapat 2 bandara Angkasa Pura I yang memiliki layanan PCR test yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Untuk biaya PCR test di Bandara Makassar seharga Rp900.000,- yang hasil tesnya dapat diperoleh maksimal 48 jam.


Sedangkan layanan _rapid test_ antigen terdapat di 7 bandara yaitu:

1. Bandara I Gusti Ngurah Bali dengan biaya sebesar Rp170.000,- dan hasil yang dapat diketahui dalam 1 jam. Layanan rapid test antigen di bandara ini buka sejak pukul 07.00 - 22.00 WITA.

2. Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dengan biaya sebesar Rp170.000,- dan hasil yang dapat diketahui dalam 1 jam. 

3. Bandara Internasional Yogyakarta dengan biaya sebesar Rp170.000,- dan hasil yang dapat diketahui dalam 1 jam.

4. Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan biaya sebesar Rp175.000,- dan hasil yang dapat diketahui dalam 1 jam.

5. Bandara Juanda Surabaya dengan biaya sebesar Rp170.000,- dan hasil yang dapat diketahui dalam 1 jam.

6. Bandara Adi Soemarmo Solo dengan biaya sebesar Rp170.000,- dan hasil yang dapat diketahui dalam 1 jam.

7. Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan biaya sebesar Rp170.000,- dan hasil yang dapat diketahui dalam 1 jam.


Layanan _rapid test_ antigen sudah tersedia di 7 bandara mulai besok, Jumat 18 Desember 2020. Sebagai informasi, sejak Juli 2020 Angkasa Pura I telah menyediakan layanan rapid test antibodi di 11 bandara, di mana biaya rapid test antibodi di 8 bandara sebesar Rp85.000,- 


Angkasa Pura I senantiasa menerapkan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 di lokasi pelayanan tes Covid-19 di tiap bandara ini. Para petugas diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan suhu tubuh sebelum bertugas, menggunakan alat pelindung diri (APD) yang terdiri dari face shield, masker, sarung tangan, dan baju pelindung. Selain itu area layanan tes Covid-19 juga secara rutin dilakukan disinfeksi untuk memastikan kebersihannya.


* * *


Jakarta, 17 Desember 2020

Vice President Corporate Secretary




HANDY HERYUDHITIAWAN

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Contact Person: Gede Eka Sandi Asmadi

(Corporate Communication Senior Manager)

HP: 08123928483 - e-mail: gede.asmadi@ap1.co.id



*Tentang PT Angkasa Pura I (Persero)*


PT Angkasa Pura I (Persero) merupakan salah satu BUMN pengelola bandara di Indonesia. Angkasa Pura I mengelola 15 bandara, yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Bandara Frans Kaisiepo Biak, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, Bandara Adi Soemarmo Surakarta, Bandara Internasional Lombok Praya, Bandara Pattimura Ambon, Bandara El Tari Kupang, dan Bandara Sentani Jayapura. Angkasa Pura I juga mempunyai lima anak perusahaan, yaitu PT Angkasa Pura Logistik, PT Angkasa Pura Properti, PT Angkasa Pura Suport, PT Angkasa Pura Hotel, dan PT Angkasa Pura Retail. Informasi tentang Angkasa Pura I dapat dilihat di www.ap1.co.id.


Facebook : www.facebook.com/angkasapura.airports

Twitter : @AP_airports

YouTube : www.youtube.com/angkasapuraairports

Instagram : @ap_airports

Call Center : 172



Wednesday, December 16, 2020

Yadnya (Yajna) Berarti Wishnu (Vishnu)

 YAJNA BERARTI KRISHNA /VISHNU


Dalam Bhagavad-gita dengan jelas disebutkan bahwa ada banyak jenis pelaksanaan yajna yang direkomendasikan dalam literatur Veda, tetapi sebenarnya semuanya dimaksudkan untuk memuaskan Tuhan Yang Maha Esa. Yajna berarti Vishnu. Dalam Bab Ketiga Bhagavad-gita dengan jelas disebutkan bahwa seseorang harus bekerja hanya untuk memuaskan Yajna, atau Vishnu. 


yajñārthāt karmaṇo ‘nyatra, loko 'yaḿ karma-bandhanaḥ tad-arthaḿ karma kaunteya, mukta-sańgaḥ samācara (BG 3.9


"Pekerjaan yang dilakukan sebagai korban suci untuk Vishnu harus dilakukan. Kalau tidak, pekerjaan mengakibatkan ikatan di dunia material ini. Karena itu, lakukanlah tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan guna memuaskan Beliau, wahai putera Kuntī. Dengan cara demikian, engkau akan selalu tetap bebas dari ikatan"


Bentuk peradaban manusia yang sempurna, yang dikenal sebagai varnasrama-dharma, secara khusus dimaksudkan untuk memuaskan Vishnu. Oleh karena itu, Krishna bersabda dalam BG 5.29: 


bhoktāraḿ yajña-tapasāḿ, sarva-loka-maheśvaram suhṛdaḿ sarva-bhūtānāḿ, jñātvā māḿ śāntim ṛcchati


"Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku

sebagai Penerima utama segala korban suci (yajna) dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua mahkluk hidup, akan mencapai kedamaian dari penderitaan kesengsaraan material."


Namun, orang yang kurang cerdas, tanpa mengetahui fakta ini, menyembah dewa untuk keuntungan sementara. Oleh karena itu, mereka jatuh pada keberadaan material dan tidak mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Namun, jika seseorang memiliki keinginan material untuk dipenuhi, dia lebih baik berdoa untuk itu kepada Tuhan Yang Maha Esa (meskipun itu bukan pengabdian murni), dan dengan demikian dia akan mencapai hasil yang diinginkan.




Sunday, December 13, 2020

Bali, nasibmu kini.

 Orang BALI Riwayatmu Kini


Bali dengan luas 5.632 km2 hanya menjadi sebuah pulau kecil diantara 17.778 pulau lainnya di Indonesia, yang secara geografis tidak begitu berarti. Meskipun digolongkan sebagai salah satu pulau terpadat dengan 4 juta jiwa, namun populasi orang Bali yang tinggal di Bali menurut konsensus penduduk hanya tersisa sekitar 60%-nya saja. Yang lebih ironi, dari total orang Bali yang tinggal di Bali saat ini, sudah 10% diantaranya meningalkan agama leluhurnya, HINDU.


Bali pada dasarnya adalah pulau miskin yang tidak memiliki kekayaan alam, kecuali hasil pertanian dan perikanan yang juga tidak terlalu besar.Dari segi politik, Bali juga tidak memiliki peran berarti di kancah nasional karena wakil rakyat Bali yang duduk di DPR/MPR hanya sekitar 5 orang dari total 1000 orang anggota. Dari segi pertahanan dan keamanan juga tidak mendukung. 


Sejak runtuhnya Majapahit, Bali diserang dan dihimpit dari arah Banyuwangi dan dari Lombok oleh kerajaan-kerajaan Islam waktu itu. Mungkin karena faktor datangnya Portugal dan Belanda, gempuran kerajaan Islam pada waktu itu melemah dan Belanda membuat undang-undang khusus untuk melesarikan budaya Bali yang memang sangat endemik, sehingga kaum misionaris tidak diijinkan mengkonversi agama orang-orang Bali.


Faktor pendukung yang menguatkan posisi Bali hanyalah kebudayaan dan alamnya yang sangat mempesona serta masyarakatnya yang sangat ramah dan terkenal jujur sehingga tidak salah kalau “dulu” pulau Bali dijuluki 

“The paradise island”,

“The island with thousand temple”, “God island”, “The morning of the world”

Dan lain sebagainya. Namun, masihkan Bali layak mendapat julukan seperti itu?


Bangunan-bangunan Pura nan megah kini disulap menjadi tempat pariwisata yang mengesampingkan “taksu”/roh dari Pura itu sendiri.Kehikmatan umat dalam bersembahyang harus dikesampingkan demi kepentingan para turis asing. 

Upacara keagamaan semakin marak dan semakin marak, tetapi kemana maknanya?


Ceramah dan propaganda agama semakin marak menyerang, tetapi sudahkah hal tersebut menghasilkan output yang positif bagi moralitas dan keajegan Bali jati mula?


Kafe remang-remang menjamur bak musim hujan, kriminalitas, narkoba, miras, kenakalan remaja, dan seks bebas sudah merambah ke desa-desa. 

Bahkan istilah ‘ngecharge HP ke kafe sudah menjadi istilah yang tidak asing lagi bagi sebagian pemuda Bali, yang berarti ‘mencari wanita penghibur di kafe-kafe'. 

Orang Bali perlahan tergerus dalam efek negatif pariwisata, mengalami kegamangan, kebingungan dan kehilangan pondasi dasar dalam menghadapi perubahan yang demikian cepatnya. Akankah “legenda manusia Bali” akan menjadi sejarah? Mengapa bisa menjadi seperti saat ini?


Dimana ada gula, disana pasti semut akan berkerumun. Demikian juga Bali, legenda sebagai pulau surga mampu menggaet jutaan pariwisata asing dan domestik setiap tahunnya, memancing gelombang pendatang yang memasuki pulau Bali, hingga sudah mencapai 40% dari seluruh penduduk. Parahnya, orang Bali ternyata tidak mampu bersaing dengan para pendatang itu. 


Meskipun SDM Bali berada di atas rata-rata, namun sering terbentur oleh adat dan lingkungan yang tidak memungkinkannya berkembang.

Orang Bali layaknya pembantu di rumah mereka sendiri. Bangga dijadikan tontonan yang tidak ubahnya seperti topeng monyet,dimana sebenarnya penikmat utama dari duit yang masuk ke Bali adalah investor yang inginnya “ajeng Bali“ atau “adep Bali“ semata.


Sikap feodal yang membawa orang Bali menjadi MANJA dan tidak mau BEKERJA KERAS juga merupakan hal utama dalam memukul mundur Bali itu sendiri. Semua sektor informal yang dipandang “rendah”,merupakan sektor yang paling mampu mengeruk kekayaan Bali dikuasai oleh pendatang. Sehingga tidaklah salah kalau orang mengejek orang Bali dengan mengatakan; “Orang Bali menjual tanah untuk membeli bakso dan pendatang menjual bakso untuk membeli tanah di Bali”.

 Ironi memang, tapi begitulah kenyataannya.


Sikap senang melihat saudara susah dan susah melihat saudara senang juga merupakan penyakit kronis yang sudah menghinggapi orang Bali. Tidak jarang sikap ini dilampiaskan melalui aji ugig, pengiwa, atau ilmu hitam lainnya.

 Jika ada seorang warga banjar yang nampak sukses dan karena kesibukannya tidak mampu secara rutin mengikuti kegiatan banjar, maka dengan mudahnya orang tersebut dipersalahkan, dipergunjingkan, bahkan tidak jarang “kutang banjar”.


Namun anehnya di balik iri dan dengkinya terhadap saudara sendiri, dia menerima pendatang dengan sangat welcome. Membangun tempat suci agama lain difasilitasi dengan baik karena alasan toleransi. 

Apakah toleransi hanya berlaku bagi pendatang dan tidak berlaku bagi warga lokal?


Institusi lokal yang seharusnya menaungi dan melindungi Bali juga tidak mampu berperan, bahkan kesannya cenderung menekan dan menghancurkan. Awig-awig desa adat sering kali menjadi self-destruction. Banyak masyarakat Bali yang harus keluar dari adat dan meninggalkan Hindu karena konflik dengan adat dan dengan upacara-upacara adatnya. 

Parisada yang seharusnya menjadi pengayom dan pembimbing umat sudah mandul. Berbagai macam kasus yang seharusnya ditindak secara proaktif tidak juga kunjung dilakukan. Kasus penghancuran Pura di Sanur oleh investor, pembuatan “pura tipuan” oleh para misionaris, penistaan simbol-simbol Hindu dan permasalahan sosial lainnya tidak mampu dipecahkan oleh Parisada. Tidakkah yang duduk di dalam Parisada adalah orang-orang intelek yang mampu menyetir Hindu dan Bali pada khususnya ke arah yang benar?


Berbagai program bertajuk “Ajeg Bali” sudah banyak dikumandangkan. Tetapi dalam kenyataannya, hal itu selayaknya sebuah wacana yang tidak lebih dari pada sebuah bahasa para dewa yang terkesan tidak aplikatif. Bahkan, tidak jarang moto Ajeg Bali berujung pada ajang bisnis semata.


Suatu kondisi seperti ini menghantarkan orang Bali kepada keinginan untuk berubah. Namun, perubahan kearah mana yang akan dituju? Setiap kondisi kesusahan dan penyakit selalu dikaitkan dengan hal-hal yang diluar nalar. 

Pergi ke orang pintar untuk “meluasan” dan melakukan upacara besar yang tidak diiringi oleh keiklasan dan sikap untuk memperbaiki tingkah pola diri sendiri pada akhirnya hanya membuat orang Bali tambah miskin,miskin harta, miskin rasa, dan miskin filsafat.


Beramai-ramai mencari trah dan kawitan dengan harapan masuk kedalam golongan Tri Wangsa juga merupakan tren yang sedang hangat saat ini. 

Bangga akan leluhur dan dapat menjadikannya sebagai modal untuk menyongsong masa depan yang lebih baik adalah hal positif, tapi bagaimana jika kebanggaan tersebut membangkitkan egoisme sempit dan menghancurkan diri sendiri?


Dengan kehidupan yang di jejali upacara untuk menyupat Bhuana Agung yang nilainya tidak dapat dikatakan murah, tidak dibarengi dengan filsafat demi mengendalikan Bhuana Alit yang membuat manusia Bali semakin miskin moral. 

Tidaklah mengherankan jika orang-orang Bali yang sedikit lebih intelek berusaha lari mencari pencerahan. Yang beruntung mungkin menemukan warna yang berbeda dari Hindu yang ada di Bali, namun yang kurang beruntung akhirnya ’hijrah’ ke agama lain.


Bagaimana mengembalikan Jiwa Bali seperti sedia kala? Jati diri atau sifat khas orang Bali adalah sifat dasar, norma, kepercayaan, dan tuntunan hidup mendasar yang seharusnya melekat pada setiap orang Bali. Jangan lupa bahwasanya budaya Bali dibangun dengan spirit Hindu, jika spirit ini hilang, pulau Bali dan orang-orang Bali tidak ubahnya seperti perangkat yang tidak memiliki software yang tepat.


Pada abad ke-10, dibawah pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh, aliran-aliran yang berkembang di nusantara bersatu menjadi Agama Saiwa Sidhanta atau yang populer disebut “Pengider–ider” (Dewata Nawa Sanga), semua dewa dipuja menjadi satu kesatuan dalam Upacara, puja dan tata letak, yang dikenal sebagai Tiga Kerangka Agama Hindu yaitu, Tattwa, Susila dan Acara/Upakara, yang terwujud dalam ruang lingkup Panca Yadnya. 


Ajaran inilah yang berkembang menjadi Agama Hindu Bali dengan segala peraturan pelaksanaannya yang melahirkan Budaya Bali, yang juga membedakannya dengan corak dan wajah Hindu di India dan wilayah lainnya. Yang dimaksud Hindu Bali disini tentu adalah Hindu yang dilaksanakan dalam koridor Kebudayaan Bali, yang seluruh aktivitasnya berada di lingkup Desa Adat/Pekraman.Dengan demikian bagaimana cara mengembalikan kebudayaan Bali ke identitasnya yang sejati? 


Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat harus kembali pada kitab suci yang merupakan dasar yang paling mendasar dari seluruh kerangka dan pondasi budaya Bali, kembali menerapkan ajaran sastra dan tegas memberhangus tindakan dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan prinsip sastra. 


Pelaksanaan upacara dan seluruh ritual adat harus dikembalikan kedalam koridor ajaran sastra/tattwa.

 Para Brahmana tidak boleh melakukan upacara besar demi bisnis “banten” semata. Awig-awig adat juga harus selalu bersandar pada prinsip-prinsip tattwa/sastra, bukan ditunggangi oleh kepentingan sesaat yang sifatnya pribadi. 


Tempat-tempat suci dan juga pura keluarga tidak hanya dijadikan sebagai media upacara, tetapi dikembalikan ke fungsinya yang lebih luas, yaitu sebagai tempat bermasyarakat dan belajar filsafat sehingga antara upacara dan filsafat dapat berjalan dengan harmoni, sehingga dapat diimplementasikan secara menyeluruh kedalam semua sisi adat dan budaya di Bali.


Bali yang tanpa Hindu, Bali yang tanpa filsafat, tempat suci, masyarakat desa pakraman yang hilang keramahtamahannya, adalah Bali yang telah lenyap. 

Adalah kewajiban kita semua sebagai masyarakat Bali untuk mengembalikan Bali menjadi lebih baik.

Bukan hanya bisa bilang Bali akan menjadi besar,bali akan menjadi peradaban dunia tapi tanpa aksi nyata 

🙏🙏🌹🌹🙏🙏


Sumber: grup wa

foto hanya ilustrasi 

#repost2018

#cerminan

#luungnejemak

#jeleknekutang




Sing Main Main ! Covid-19 pandemic seasons. Jauhi Kerumunan

 *Breaking News*


Indonesia *berduk

Telah berpulang :


1. dr.Felicia Tanzil, SpKFR (Majalengk

2.Dr.Ananto Prasetya Had

(Ka Humas RSCM)

2.   Dr. Fuad Mahfuzd, Sp. THT

3.   Kol Ckm Dr. Sjahruddin, Sp. THT-KL 

4.   Dr.Oki Alfian bin H.Alamsyah

5.   Dr.Dharma Widya ( Direktur RSUD Aceh Timur )

6. Dr. Gatot Soeryo Koesumo, PFK, MM ( Direktur RS Aulia Jagakarsa) , Jakart

7. dr. Wahyuning Saraswati ( Bogor

8. dr Redy ( WaDir RSUD Banjar

9. Prof.dr Dadang Hawari SpKJ( K

10. Kol.CKM DR Is Priyadi (16.38) di RSPAD. Alumnus FK UNAIR 84


Dalam waktu 24 jam, Indonesia kehilangan 10 Dokter karena COVID-1

Sungguh kehilangan besar bagi bangsa Indonesia


Hati2!!

Kementerian Kesehatan memperkirakan akan terjadi ; *ledakan yg sangat luar biasa*


*AGAR DIPERHATIKA

PAKAI MASKER, JAGA JARAK, JAUHI KERUMUNAN, SERING CUCI TANGAN, MAKAN MINUM YANG PANAS2, LEBIH BAIK DIRUMAH


Semoga kita semua tetap sehat walafiat. Ami


 Herry Wanadjaja: *Untuk diketahui saj

*Pemilik Al Azhar Klp Gading meninggal 10 hari lalu, 2 hari kemudian Direkturnya ikut meninggal, 1 hari berikutnya 2 anak satu mantu, 2 cucu di rawat di RS krn covid, tadi malam jam 22.30 istrinya meninggal krn covid.

*WARNING

*untuk diri sy sendiri maupun teman2 betapa bahayanya covid, satu keluarga bisa habis.

*Mari kita waspada, tetap ikuti protokol kesehatan dan berdoa utk keselamatan kita semua.

[1/12 08:02] Herry Wanadjaja: 🇮🇩🇮🇩🚩

*Hari ini semua RS dikota Bandung ruang rawat Covid penuh , pasien tertahan di UGD tdk tahu mau dirujuk kemana


Hari ini teman saya dokter di Majalaya meninggal karena covid. Menurut informasi bbrp dokter saat ini dirawat dlm keadaan kritis.


*Kota Bdg sdh merah total, hindari bepergian atau makan bersama karena berisiko tertular. Gejalanya sdh sangat bervariasi shng sukar dikenal


[11/27, 12:38 PM] artgus faizal: # 🔴😷🆘  *Hati2 !!! Bandung zone merah :  Nasihat di Rumah Sakit isolasi ( dapat diterapkan di rumah ) -obat yang diambil di Rumah Sakit 🏥 Isolasi


  1. Vitamin ©️ C-10

  2. Vitamin  E ( E 

  3. Dari pukul 10.00 🕙hingga 11.00 pagi, 🕚duduklah di bawah sinar matahari 🌞 selama 15-20 1️⃣5️⃣ - 2️⃣0️⃣ menit

  4. Makan telur 🍳🥚 sekali sehar

  5. Istirahat / tidur minimal 7-8 jam 🛌

  6. Setiap hari kita minum 1,5 liter air 

  7. Semua makanan harus dimakan panas ( tidak dingin ) 🥘🔥

 *" Ini semua yang kami lakukan di Rumah Sakit untuk memperkuat sistem kekebalan "*.


  *Perhatikan bahwa pH COVID-19 adalah dari 5,5 hingga 8,

 

*Oleh karena itu, yang harus kita lakukan untuk MEMBERANTAS VIRUS tersebut adalah MENGKONSUMSI MAKANAN yang LEBIH BASA dan LEBIH ASAM daripada virus corona😷 baru*


  *Misalnya*

  Pisan

  Kapur-9,9 p

  Kuning Lemon-8,2 p

  Buah susu-15,6 p

  * Bawang putih-13,2 p

  * Mangga-8,7 p

  * Orange Orange-8,5 p

  * Huang Li-12,7 p

  * Selada air-22,7 p

  * Orange-9.2 p


  *Bagaimana Anda tahu bahwa Anda telah terinfeksi virus corona baru 

 

1. Tenggorokan gata

2. Tenggorokan kerin

3. Batuk kerin

4. Suhu tubuh tingg

5. Sesak napa

 6. Kehilangan penciuman.  

 

*Sebelum virus menginfeksi paru-paru, air lemon hangat bisa menghilangkan virus*


  #🔴 *Guys; Jangan simpan informasi ini sendiri. Tolong bagikan kepada keluarga dan teman" Anda*.  🥰




 #. .siggl ?*HHHHHHHHHg :. 5*

 🥛i.)00*#i*  .*****a*n..N*.! .9..)))a ....ia) a*i ini sendiri. Tolong bagikan kepada keluarga dan teman" Anda*. 🥰 #