[6/7 14.24] Sastra Bali Luxury:
Yaa biar tidak menjadi duri dalam daging perkataan ini,
Papa kembalikan aja Innova nya.
(Persepsi Papa, ini usaha kita untuk hidup maju ke depan. Yang semua usaha maju itu butuh pengorbanan besar dan menyakitkan.)
Kalau persepsi Papa ternyata tidak nyambung dengan niat Mama hidup maju lebih baik, investasi untuk semua,
Tentunya,
Untuk apa Papa berkorban ?
Kita biarkan saja hidup tetap standard tanpa Usaha yang keras.
Tidak perlu menguras energi otak.
Papa Cukup bilang belum ada uang. Jika kita hendak hal-hal lain dalam hidup.
[6/7 14.27] Sastra Bali Luxury: Pada Persepsi Papa,
Kita Team Work.
Yang tidak seorang pun memperoleh perasaan santai, damai, merdeka, terbebas dari rasa gundah dan khawatir akan Resiko yang selalu mengintai.
Papa juga sakit jiwa, sakit hati dan sakit fisik, yang selalu Papa ingatkan, agar menikmati waktu kebersamaan yang ada sekarang (mumpung dikasih waktu bersama).
Karena,
Saat tiba waktunya kita nanti untuk terpisah,
Setidaknya sudah memaksimalkan waktu kebersamaan dengan bahagia.
Itu pilihan.
Kita boleh memilih,
Mau bersama bahagia dalam Kawah seperti Kawah Gunung Batur kehidupan?
Atau mau selalu bersedih didalam Kawah Gunung Batur kehidupan ?
Toh, garis Finish nya sama ?
Semua pasti Sakit, Usia Tua dan Meninggal Dunia.
[6/7 14.37] Sastra Bali Luxury: Cepat atau lambat,
Papa akan tiba di garis Finish kehidupan.
Dan jika Papa yang duluan Finish, maka Mama akan menjadi penanggung jawab penuh untuk Anak-anak Kita.
Tidak ada lagi Team Work kita.
Begitu pula sebaliknya.
Saat kita sudah masing-masing sendiri pada dunia kita nanti,
Semua perkataan dan persepsi yang penuh Energi Kesedihan, akan sangat kita sesali.

No comments:
Post a Comment